Rabu, 03 Februari 2016


Selembut sutra aku menari .
Dibawah tangis sang langit
Bermain bersama bebatuan
Dulu aku tak mengerti dan mungkin tak ingin mengerti
Nafas mengapa berhembus .
Dedaunan menghindar dari sang sinar .
Ataukah para bunga yang bersembunyi dalam kuncupnya .
Aku tetap tak mau peduli .
Lalu angin berhembus dan sang terang kembali pulang .
Lelahku ku akhiri bersama aliran sungai
Aku pun kembali dari indahnya alam
Menyapa para cicak dirumah .
Aku hanya memahami sebelum tidur
Jika Ibu tersenyum, hari esok akan jadi luar biasa
Karna itu yang membuatku mencinta apa yang tak ada .


Senin, 01 Februari 2016


Tak banyak yang berubah. Hanya saja kita bertambah dewasa. 

Berlanjut atau akan berhenti sampai pada satu titik tertentu, siapa yang akan tahu. Apa yang Ia gariskan antara kau dan aku terasa buram. Beritahu aku, kapan dan dimana pantasnya berhenti? Aku ingin menikmati dentungan suara hati, namun itu terasa menyakitkan, apakah karna dentungannya yang begitu keras ataukah dentungan itu jauh lebih kecil dari yang ku bayangkan. Apa yang harus kulakukan? Semua ini menyiksa, bahkan untuk melupakanmu tersa lebih tersiksa.



Berlanjut atau akan berhenti sampai pada satu titik tertentu, siapa yang akan tahu. Terasa nikmat hanya saja berat rasanya untuk tahu bahwa tak ada alasan untuk bertatap mata, benang merah sangat kusut, apakah dalam kusut itu ada sebuah harapan? Siapa yang tahu. 

Aku ingin berhenti namun terasa berat.